Latest Post

Sebut Lagi Aku Mahiya

Posted By Redaksi on Rabu, 28 Oktober 2020 | 6:57:00 PM

Puisi Fathana S.

Aku bersandar pada bahu senja
Antara Adzan dan Iqamah
Di sujud terakhir dan ketika turun hujan pagi tadi
Hingga sepetang ini..
Namamu terjerembab dalam benakku
Terima kasih untuk segala cinta
Maaf untuk segala kurang
Meski pernah kupercaya dalam cinta tak ada maaf dan terima kasih
Kamu tetap saja cinta untuk segala maaf dan terima kasihku
Aku menganut kepercayaan baru
Ketika cinta disebut-sebut sebagai nama lain dari kebebasan
Aku bebas mencintaimu bukan?
Dengan caraku, aku menunggu
Agar kau tidak tidak terganggu
Dengan lugu, aku merindu
Kau sebut Mahiya
Mahiya-mu, pada hari naskah-naskah janji terucap, pada penutupan bulan yang terus beranjak di tahun yang cukup rumit untuk tetap berdiri.

Diksi-Diksi Prematur

Posted By Redaksi on Rabu, 14 Oktober 2020 | 11:54:00 PM

Esai Sastra: Mahrus Andis

Apakah yang dimaksud "diksi" puisi? Seorang calon penyair, atau anggaplah dia penyair, menjawab pertanyaan itu. Dia katakan, diksi ialah kata yang secara morfologis mengandung arti tertentu. "Kurang tepat," jawab saya. Wajahnya cemberut dan hatinya kecut. Mungkin orang itu merasa diteror kemerdekaan berpikirnya.

Kemudian saya melanjutkan. Diksi puisi ialah kata, atau kumpulan kata yang sudah melewati proses selektifitas secara intens di puncak perenungan batin, dan telah diputuskan menjadi konsep diri untuk mewakili ideologi puitik penyairnya.
"Itu artinya kata pilihan," seruduknya.
"Bukan ! Itu yang disebut "pilihan kata", jawab saya. Dia menatap saya dengan bolamata yang tajam. Bagai pisau silet, matanya mengiris otak kecil saya.
"Di mana letak perbedaan antara keduanya ?" Tanya dia.
"Di kepalamu," jawab saya santai. Wajahnya semakin cemberut, pasti hatinya kian kecut.
"Maksud saya, otak di kepalamu berbeda dengan konsepsi pemikiran saya." Sesaat kemudian, saya pun tuntaskan penjelasannya. Saya katakan bahwa "kata pilihan" hanyalah produk otak yang dipersiapkan untuk menyusun bahasa komunikasi dari hari ke hari. Sedangkan "pilihan kata" adalah hasil olahan batin ( otak + nurani + kesadaran estetik ) sebagai dasar membangun struktur puisi untuk bahasa komunikasi dari hati ke hati.
"Tapi bagaimana jika sebuah kata dalam puisi tidak diolah seperti itu ?" Selidiknya
"Itu namanya kata yang gagal mendiksi, " sambar saya.
"Maksudnya ?"
"Maksudnya; Diksi Prematur", kunci saya. Sang calon penyair, atau anggaplah penyair, itu terperangah.

Di kampung saya, prematur dalam bahasa Bugis artinya "loccoq", yaitu janin yang keluar dari rahim wanita sebelum tumbuh menjadi bayi. Diksi prematur ialah kata yang gagal menjadi diksi puisi. ***

- Makassar, 13 Oktober 2020 -

Indonesia Tanpa Pancasila

Posted By Redaksi on Minggu, 04 Oktober 2020 | 11:58:00 PM

Puisi Mahrus Andis

 


Indonesia tanah leluhur
Detak-detik jantung
Nafas segar mengalir
ke sumsum hari-harimu
Indonesia tanah yang gembur
Dari perutnya engkau makan dan menyusu
Di angin bukit mengalun
Indonesia lelapkan tidurmu
Tawarkan mimpi masa depan anak-anakmu
Indonesia ladang yang subur
bagi segenap rakyat bersatu
Tanpa Indonesia
Apa lagi yang engkau miliki ?
Petani dan nelayan kehilangan sawah-lautnya
Pelajar dan mahasiswa
akan bangkit menjadi pesilat lidah;
sepi dari ilmu
sunyi dari mimbar akademik
Tanpa Indonesia
Pegawai dan karyawan menjadi pengangguran
Para penganggur akan hidup terluntah-luntah dalam kehancuran
Tanpa Indonesia
Anak-anak yang engkau banggakan
kehilangan senyum
yang setiap waktu membuatmu bahagia
Istri-istri tersayang diamuk cemas menanti suami
sembul dari kepulan asap pemberontakan
Para suami didera gelisah
khawatir istri yang cantik diculik gerombolan perusuh
Indonesia adalah benteng paling kukuh
bagi negeri yang damai
Tanpa Indonesia
Sayap-sayap burung garuda
luruh satu-satu
Manik-manik kebangsaan yang engkau agungkan bertahun-tahun
terburai berantakan
Tanpa Indonesia
Panca Sila akan musnah tenggelam ke dalam comberan
Indonesia
tanpa Panca Sila
Ke langit siapa
engkau bersumpah ?
Indonesia
tanpa Panca Sila
Jangan bermimpi;
Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat
yang lapar.
 
-Blk, 30 September 2020-

Antara WIT dan WIB

Posted By Redaksi on Rabu, 23 September 2020 | 3:52:00 PM

 Oleh: Assyifa Barizza


Seperti hari-hari sebelumnya, setiap senja, di antara gemuruh ombak dan angin sore, aku selalu duduk di sini, di tepi pantai Tugulufa memandang langit yang berwarna kuning keemasan. Burung-burung camar beterbangan dengan siulannya yang menyejukkan hati, para muda-mudi, bercengkrama di sisi pantai dengan riang.

Di gazebo, aku mengeluarkan laptop dan mendudukkannya di meja. Mulai merangkai aksara demi aksara, hingga menjadi kalimat dan terangkum dalam cerita yang indah. Aku bukan penulis yang pandai memainkan diksi, hanya seorang perempuan yang hobi menulis dan mengirimnya pada koran dan majalah untuk dimuat. Beberapa kali sering ditolak, tapi aku tak pernah menyerah. Hingga sekarang tulisanku sudah mulai dilirik.

Sore ini, otak beku. Tak ada ide yang muncul. Apakah aku harus menulis kisahku sendiri? Tentang kisah percintaan yang dipisahkan oleh jarak yang selalu menciptakan rindu!

Benar saja, saat mengingat sang Kekasih yang tengah menimba ilmu di kota gudeg, Yogyakarta, rindu pun tak terelakkan. Bayangannya datang mengusik jiwa yang gundah. Ah, apa yang harus kulakukan? Memandangi fotonya saja, tidak pernah cukup bagiku.

Dua tahun yang lalu, di tempat ini. Dia mengajakku menikmati sunset, kemudian mengabadikan diriku dalam kamera miliknya. Siapa sangka, dia akan pamit untuk melanjutkan studi di kota WIB, propinsi yang berbeda waktu dua jam dari timur.

"Aku akan ke Jogja, Veena," ucapnya kala itu yang menimbulkan kabut di mataku. "Aku akan melanjutkan S2."

Aku berusaha kuat, mencoba tersenyum tegar, walau ada sedikit ketidak relaaan. Namun, apa hakku untuk menghalangi cita-citanya yang ingin menjadi seorang dosen?

"Pergilah, Kak Raka. Raih cita-citamu."

"Bagaimana mungkin aku bisa berpisah denganmu, gadis manis-ku?" sahutnya sembari menggemgam tanganku berjalan menyusuri tepi pantai sembari menatap langit yang berwarna jingga.

"Bukankah kita bisa saling video call?" Aku tersenyum padanya dan dia balas dengan elusan lembut di pipiku.

"Berjanjilah untuk menungguku, Veena."

Aku mengangguk. Lalu saling menautkan tangan. Berjanji untuk saling setia. Di saksikan sunset langit timur, kita saling berpandangan, tak ada kata yang terucap, hanya mata yang berbicara.

"Veena?"

Terdengar suara berat, membuat lamunanku terjeda dan memilih untuk menutupnya. Karena cerita tentang Kak Raka, tak pernah ada habisnya. Selalu indah untuk dikenang. Lelakiku, yang selalu menemaniku saat dia masih berada di sini.

"Kak Dave?" Aku menjawab sapaan dari laki-laki yang langsung duduk di hadapanku. Dia ini adalah sahabat dekat Kak Raka, jadi kami cukup akrab.

"Kau sepertinya menyukai tempat ini."

"Iya. Di sini, kadang aku menemukan ide untuk menulis."

"Bukan karena alasan lain?"

Sejenak aku menghela napas, memalingkan muka ke arah laut, memandang perahu nelayan yang mulai berseliweran. Tak bisa kutampik ucapan Kak Dave, alasan lain ke tempat ini, untuk mengenang kisah dengan Kak Raka. Kekasih yang sudah dua tahun di rantau.

"Apa kau yakin Raka masih setia padamu?" Apa yang baru saja terlontar dari mulut Kak Dave, membuat keningku berkerut.

"Apa maksudmu, Kak? Aku tidak pernah meragukan cintanya."

"Jangan terlalu naif jadi perempuan, Veena."

"Stop, Kak Dave. Jangan pernah menjelekan dia di hadapanku." Suaraku agak kutekan, berusaha untuk tidak memperlihatkan emosi yang langsung hadir saat ini juga.

"Aku hanya mengingatkan. Karena … aku tidak ingin kau disakiti."

"Sudahlah, Kak. Aku lebih tahu tentang Kak Raka daripada kamu." Segera kumatikan laptop, lalu berkemas untuk pulang. Langit sudah mulai gelap, pertanda siang akan segera berganti malam.

Perlahan aku meninggalkan pantai, tidak peduli dengan Kak Dave yang sepertinya masih ingin berbicara denganku. Namun? Apa maksud dia menjelekkan Kak Raka? Bukankah mereka adalah sahabat sejak dari bangku putih abu-abu?

Lagipula, mana mungkin Kak Raka tidak setia? Sejak dia di Yogyakarta, hubungan kami baik-baik saja. Setiap ada waktu luang, dia selalu berbicara tentang makanan khas Jogja, jalan Malioboro, pasar Beringharjo, candi Borobudur, candi Prambanan, dan tempat-tempat wisata yang dia kunjungi.

"Suatu saat, aku akan mengajakmu ke sini." Begitu selalu ucapnya setiap mengakhiri perbincangan via telepon. Tentunya, ucapan itu selalu aku aminkan, semoga suatu saat terkabul.

***

 

Malam kian beranjak, mata masih enggan terpejam. Kembali aku membuka laptop, menuangkan ide yang ada di pikiranku saat ini. Renjana, itu tema yang aku akan tulis. Tentang kerinduan yang berlebih pada sang kekasih. Bukankah ini menggambarkan suasana hatiku sekarang?

Sejenak, aku membuka galeri foto di ponsel, menatap wajah tampan sang Pujaan yang tersenyum. Hatiku menghangat, tatkala puas menatapnya. Lalu, ide mulai bermunculan, tangan pun dengan lincah menari di atas keyboard laptop.

Saat asyik merangkai kata, ponselku berdering. Ada notifikasi pesan yang masuk di aplikasi WhatsApp. Senyumku mengembang, saat melihat nama yang tertera. Ah, sepertinya dia tahu, kalau aku begitu merindukannya.

Senyuman itu hilang saat membaca pesan. Tanpa seizinku, air mata sudah mulai membasahi pipi. Aku menantikan kata rindu darinya, tapi kenapa dia menyebut perempuan lain di pesannya?

[Vee. Maafkan aku. Ada perempuan yang menyukaiku. Di sini, dia sering membantuku di kala kesusahan. Sore tadi dia bilang, kalau dia menyukaiku dan ingin menjadi kekasihku. Aku tahu ini menyakitkan bagimu, Vee.]

Aku berharap, pesan itu hanyalah prank dari Kak Raka. Atau, hanya sebuah mimpi buruk. Ternyata dugaanku salah, selang beberapa menit kemudian, dia kembali mengirim pesan dan juga foto dirinya bersama seorang gadis cantik.

Air mata mulai menganak sungai, dan kubiarkan begitu saja. Ingin rasanya, di antara desau angin dan bunyi burung malam, berteriak menumpahkan rasa sakit  yang dihadiahkan oleh laki-laki yang katanya mencintaiku.

Aku tidak bisa membaca pesannya lebih lanjut, itu akan semakin menyakitkan. Kulemparkan ponsel ke pojok kamar, lalu menenggelamkan diri dalam tangisan. Mengurai rasa sakit yang tak terbahasakan.

Jadi yang dikatakan Kak Dave tadi di pantai itu benar adanya? Sepertinya, dia sudah mengetahui sesuatu tentang Kak Raka dan aku malah mengabaikan perkataannya.

Aku memang perempuan naif. Terlalu percaya dengan Kak Raka dan janji yang pernah dia ikrarkan sebelum pergi. Nyatanya, dengan adanya jarak yang membentang, dia melupakan segala janji yang pernah dia ucap. Menyedihkan.

***

Hari demi hari telah terlewati. Aku lebih banyak menyibukkan diri dengan menulis, dan juga menjadi seorang pendidik di sekolah menengah atas.

Kenangan tentang Kak Raka tak bisa terhapus begitu saja dari benak. Dia tetap masih ada, meski namaku di hatinya telah tergantikan perempuan lain. Rindu masih setia menemani, meski itu bukan hakku lagi.

Kak Raka, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu, sementara banyak waktu yang telah kita lewati bersama. Banyak kenangan yang telah kita rangkum dan menjadikannya kisah yang indah. Dan kenapa kau mengoyaknya? Apakah kenangan yang telah kita ciptakan itu, tidak ada artinya bagimu?

Bulir air mata kembali membasahi pipiku.

Kenapa diriku selemah ini? Seorang lelaki pengkhianat, tidak pantas untuk ditangisi. Yah, harusnya aku belajar untuk melupakannya, tidak harus memelihara luka ini.

"Hapus air matamu." Seseorang yang selama ini selalu hadir di saat aku menangis, datang menyodorkan selembar sapu tangan. Kak Dave, dia selalu datang, berusaha untuk menghiburku.

"Makasih, Kak," sahutku sembari menghapus air mata.

"Sampai kapan kau harus menangis?"

"Entahlah, Kak. Setiap kali aku mengingat Kak Raka, aku tidak bisa tahan untuk tidak menangis."

"Percayalah, Raka juga mencintaimu. Dia hanya membalas budi perempuan itu."

"Maksud, Kakak?" Aku kaget mendengar perkataan Kak Dave.

"Tadi malam, Raka menelponku. Menjelaskan semuanya. Di sana dia pernah demam seminggu, dan perempuan itu yang merawatnya, membantunya di setiap dia kesulitan di sana. Makanya, dia tidak enak menolak perempuan yang bernama Anandita itu.  Oh, ya, Raka meminta maaf padamu." Kak Dave mengakhiri bicaranya.

Sayangnya, apapun yang dikatakan Kak Dave tentang Kak Raka, tidaklah menyembuhkan rasa sakitku. Pembenaran apapun yang dilakukan olehnya, tetaplah tidak akan mengubah keadaan. Dia sekarang milik orang lain.

Sejenak aku tertawa. Mencoba menetralisir hati yang bergejolak di dalam sana. Menurutku, seberapa banyak godaan yang datang, jika lelakimu setia, dia takkan pernah meninggalkanmu. Jangan jadikan balas budi sebagai alibi untuk menutupi kebusukan.

Apakah dia tahu? Sejak dia menuntut ilmu di provinsi yang istimewa itu, beberapa orang yang datang mencoba menggoyahkan kesetiaanku, tapi aku bertahan untuk tetap menjaga hatiku untuknya.

"Apakah hatimu tidak ada tempat orang lain, Veena?" Kak Dave memecahkan lamunanku.

"Maksud, Kak Dave?"

"Biarkan aku menyembuhkan lukamu." Kak Dave mencoba meraih tanganku dan menggemgamnya.

Aku menggeleng pelan. "Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka itu, Kak. Aku tidak ingin menjadikan Kakak sebagai pelampiasan. Untuk sementara, aku ingin sendiri dulu."

"Aku memahami perasaanmu, Vee. Dan aku akan tetap menunggumu."

Sejenak, kutatap laki-laki bermata elang itu. Kutemukan sebuah ketulusan di sana. Laki-laki yang bekerja di kepolisian itu, mencoba meyakinkanku dengan mengecup tanganku. Atau, jangan-jangan dia cuma kasian terhadapku?

"Kenapa harus aku, Kak? Banyak perempuan di luar sana yang bisa Kakak pilih." Dengan profesinya sebagai polisi, tentunya banyak perempuan yang ingin menjadi kekasih dari Kak Dave. Apalagi dengan wajah tampan yang menambah daya tariknya.

"Karena … aku menyukaimu sejak pertama bertemu denganmu. Sayangnya, kau sudah milik sahabatku, Raka."

"Maaf, Kak. Untuk saat ini, kau tetap seorang sahabat bagiku."

"Aku memahami itu." Kak Dave tersenyum lembut. "Aku akan menunggumu sampai kau jatuh cinta padaku."

Senja mulai lenyap di langit. Aku dan Kak Dave perlahan meninggalkan kafe yang terletak di tepi pantai, tempat ternyaman yang sering kukunjungi.

***

Aku baru saja menyelesaikan deadline tulisan yang akan kukirim pada sebuah majalah, ponsel yang tergeletak di atas nakas berdering. Ada pesan yang masuk, dari nomor yang tak kukenal.

[Kau perempuan beruntung, hanya kau yang dicintai oleh Raka. Aku salah, aku pikir, seiring dengan waktu, dia bisa mencintaiku. Nyatanya tidak.] Isi pesan itu.

[Maaf, anda siapa?]

[Anandita. Kekasih Raka di Jogja.]

[Tapi setidaknya ada telah menang untuk saat ini, aku hanya masa lalu, dan anda masa depan.]

[Aku menyerah. Hatinya hanya milikmu.]

[Aku yakin, suatu saat anda bisa memenangkan hatinya.]

[Pantas saja Raka begitu mencintaimu. Kau gadis yang sangat baik. Oh, ya, Maaf, aku mengambil nomormu dari ponsel Raka secara diam-diam.]

Tidak kubalas lagi pesan dari perempuan yang bernama Anandita itu. Aku akui, masih ada rasa yang tersimpan di dalam sana, tapi bukan berarti aku akan berjuang untuk mendapatkan cinta Kak Raka kembali.

Yang telah pergi, biarkan saja. Setelah dia mampir di hati perempuan lain, aku tidak punya alasan untuk menahannya bersamaku. Aku akan mencoba belajar untuk mengikhlaskannya. Semoga waktu, bisa menghilangkan segala rasa yang pernah tumbuh untuk Kak Raka.

Aku hampir terbunuh oleh rindu, tapi tidak dengan cintaku. Aku akan merawatnya, meski belum tahu siapa yang akan memilikinya. Bisa saja dari luka itu, akan tumbuh seribu rindu untuk seseorang yang pantas mendapatkannya.

Apakah cintaku akan berlabuh pada Kak Dave? Atau pada laki-laki lain? Entahlah. Biarlah waktu dan takdir yang menjawabnya.

Tidore, 21 September 2020

Kemerdekaan Adalah Senyum Manis Buat Istri

Posted By Redaksi on Senin, 21 September 2020 | 3:20:00 AM

Oleh: Mahrus Andis

 


Kemerdekaan bukanlah kehebatan
meletupkan dahaga
di botol-botol minuman
Kemerdekaan bukan pula keberingasan
menjejal orasi tepi jalan
mengusung spanduk kematian
Kemerdekaan tidak juga bermakna kebebasan
menorehkan catatan kepentingan
di atas lembaran kehidupan
Kemerdekaan adalah senyum manis buat istri
mengalir di sungai nurani
Sepi
dari
penjajahan birahi.
 
(Balada Kursi-kursi, 2014)

Sahabat

Posted By Redaksi on Kamis, 17 September 2020 | 6:32:00 PM

Oleh: Maya Akhmad


Semilir angin 
Mengalir lembut 
Menyapa sukma
Hingga ke relung relung
Kian hampa
Berpacu detak jantung 
Menanti

Sahabat ...
Semasih purnama berganti
Rinduku tetap menanti
Di segenap denyut nadi
Sampai mati

Sahabat ....
Senyumlah seelok rembulan
Agar hatiku tetap damai
Bersama mimpi 
Yang panjang

Bumi Salassae tercinta, September 2020

Lorong Baru

Posted By Redaksi on Jumat, 04 September 2020 | 1:17:00 AM

Oleh: Maya Akhmad

Sering ku dengar 
Suara itu 
Suara seruling merdu
Sang petani
Tembangnya menggema
Dari desah dedaunan 
Di antara kaki bukit
Riuh suaranya
Lirih terdengar
Mendayu...

Di lorong baru 
Ada desah nafas cinta dan rindu
Tentang matahari 
Yang mencintai bumi
Tentang hujan
Yang membasahi tanah kering
Tentang langit dan mega 
Yang berkejar kejaran
Begitulah kidung sang petani
Begitu pun kehidupan
Suka duka silih berganti

Di lorong baru
Saban waktu sang istri mengeluh
Tentang hasil panen 
Yang tak memadai
Tentang harga pupuk
Yang melonjak
Tentang pupuk bersusidi
Yang langka
Mengeluh seperti berada
Di padang tandus
Mengeluh seperti berjalan
Pada  kerikil kerikil tajam
Kehidupan yang semakin membelit 

Di lorong baru
Semangat kehidupan
Mulai tumbuh
Seiring persaudaraan 
Semakin erat
Di temani secangkir kopi pahit
Kian terasa manis
Riuh senda gurau
Dan lintingan tembakau kampung
Memacu semangat
Yang tiada henti
Di lorong baru
Kehidupan akan segera mulai


(buat kawan di lorong baru)
Butta Salassa' tercinta 
4 September 2020

Petaka


Oleh: Adhe Lely Serly Dewi

Cincin perak melingkar di jari manisnya
Kepingan harapan berhamburan di sisinya
Mata sembab memerah, jadi muara air yang tak pernah usai mengaliri pipinya
Ditertawakan angin malam, membelai rambut yang mulai acak acakan
Ia calon pengantin yang esok hari akan menghadapi ribuan tanya atas segala perihnya.

Lelaki yang ia cinta memilih meninggalkannya saat ribuan mata telah mendoakan, 
Ia pergi dengan pengkhianatan, meminta untuk dikutuk atas segala dosanya.

Hari ini harusnya kita telah tersenyum bersama menyambut tamu yang datang, aku telah cantik dengan balutan busana pengantin pilihan mu kemarin, dan kau akan terlihat gagah dengan taksedo hitam yang jelas kesukaanmu, tepat sejam yang lalu seharusnya kita telah sah hidup bersama dan ku jadi wanita terbahagia saat itu.

Namun  itu hanya sekedar impianku, kini hanya tinggal luka yang ku yakini akan terus bersamaku hingga mati, cincin yang melingkar di jari manisku kini hanya jadi bahan cemooh mereka yang tak menyukai. Aku adalah calon pengantin yang di tinggal pergi oleh kekasih di hari pernikahan, di saat semua orang telah mendoakan hidup kita bahagia hingga nanti.

Malam ini seharusnya jadi malam bahagia untuk ku karna telah ada dirimu yang halal disisi, kini hanya angin malam yang menertawakan  nasib, di tinggal kekasihnya yang memilih untuk mendua, kau tahu saat ini hanya sesal yang kurasa, mengapa aku mencintaimu sangat, dan ingin hidup  bersamamu.

Malam ini bumi ibarat hancur berantakan tak ada alasan untuk menatap pagi di hari esok, hatiku masih tak siap menjawab segala tanya yang menghampiri, hidupku akan terus mengutukmu walau hati dengan bodohnya masih mencintai.

Adhe Lely Serly Dewi, gadis yang lahir di Salassae, Bulukumba, Sulawesi Selatan pada 3 juni 1998. Menyelesaikan pendidikan terakhir di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Jurusan Bisnis Islam dan Menejemen di UIM. Di sela-sela aktivitasnya pada bagian administrasi di PKM Desa Slassae, gadis ini banyak menulis termasuk puisi-puisi.

Gadis Perindu Hujan

Posted By Redaksi on Kamis, 03 September 2020 | 2:21:00 PM

Oleh: Assyifa Barizza

Setiap kali hujan turun, aku selalu setia duduk di samping jendela kaca. Bukan untuk menyaksikan butiran hujan yang jatuh ke bumi, atau menikmati sensasi hujan yang bunyinya menenangkan. Aku di sini, untuk memandangi perempuan berwajah manis berambut sebahu yang setiap kali hujan turun, selalu berlari-lari mengelilingi sekitar rumahnya sampai hujan reda.

Perempuan aneh.

Aku pun menjadi aneh. Seperti ketagihan melihat perempuan itu berlarian di bawah hujan. Bahkan, aku selalu berharap, agar hujan tiap hari turun di sini, agar bisa melihat perempuan itu bercengkrama dengan hujan.

Namanya Arini. Nama yang manis, seperti orangnya. Kemarin, aku bertanya tentangnya pada pemilik warung depan rumah. Ibu Yulia, sang pemilik warung banyak bercerita tentang kisah Arini. Kisah yang membuatnya menjadi seorang pluviophile. 

Katanya dua tahun yang lalu, saat Arini akan melangsungkan perkawinan dengan lelaki pujaan hati. Sang Malaikat maut menjemput terlebih dahulu calon suami Arini. Saat itu, calon suaminya datang menemui Arini untuk mengucap ijab kabul. Nyatanya takdir berkata lain, pujaan hati malah berjodoh dengan kematian. Mobil yang ditumpangi mengalami kecelakaan tunggal dan calon suaminya meninggal seketika. Kisah yang tragis.

Menurut Ibu Yulia, saat mendengar berita duka itu, Arini seakan tidak sanggup terima kenyataan. Dalam balutan gaun pengantin, Arini berlari keluar menembus hujan. Berteriak dan menangis. Menumpahkan rasa sakit dan kesedihannya pada hujan. Sejak saat itu, dia selalu menunggu hujan turun. Ah, Arini. Siapapun tidak akan ada yang sanggup menerima kenyataan seperti yang kau alami. Kehilangan orang yang kita cintai tidaklah mudah.

Di sini--di kota kecil ini, baru seminggu aku menginjakkan kaki. Pekerjaanku sebagai seorang lawyer tentulah harus bersiap untuk berada di mana saja, tergantung tempat klien berada. Kali ini, aku menangani kasus berbeda. Aku ditugaskan oleh kantor untuk mempelajari kasus tentang tanah rakyat yang bersengketa dengan perusahaan asing. Tentulah ini memakan waktu yang lama. Dan pekerjaan kali ini, termasuk tugas kemanusiaan. Tanpa digaji. Saat atasan menawarkan, tanpa berpikir dua kali, aku langsung menerimanya.

Tentang percintaan. Beberapa kali aku menjalin asmara dengan beberapa perempuan. Saat kuliah, aku dijuluki play boy kampus. Namun, tak ada yang benar-benar membuatku jatuh cinta. Beberapa perempuan yang kutemui, hanya ingin menumpang ketenaranku sebagai ketua senat di kampus. 

Ada pula perempuan yang menangis, saat aku memutuskan hubungan dengannya. Ariella, anak Fakultas Komunikasi, kekasih yang kupacari sejak semester empat itu tidak rela saat kuputuskan secara sepihak. Mau bagaimana lagi, aku sudah tidak kuat menghadapi sikapnya yang over protective. Sering cemburu tanpa alasan. Belum lagi, sering memintaku menemaninya belanja di Mall. Menyebalkan.

"Aku janji Runa. Aku akan merubah sikapku." Ariella menangis terisak. Memegang tanganku. Mengiba. Namun, keputusanku sudah bulat. Tidak akan bersamanya lagi. 

"Maaf, Ariella. Aku tidak bisa."

"Kenapa? Apa ada perempuan lain?"

"Aku tidak perlu punya alasan untuk putus denganmu. Intinya, aku tidak suka dengan sikapmu, tidak suka ditekan."

"Semuanya bisa dirubah."

"Terlambat," sahutku sembari meninggalkan kost miliknya. Tidak kudengarkan teriakannya yang memanggil namaku. Sore ini, aku sengaja menemuinya hanya untuk mengakhiri hubungan yang seperti neraka bagiku.

Apakah aku jahat waktu itu? Entahlah. Di mata Ariella, pasti iya.

Setelah itu, beberapa kali aku menjalani hubungan pacaran dengan beberapa perempuan. Entah dari teman kampus sendiri atau cewek kampus lain. Pesonaku memang tidak bisa ditolak kala itu, ketua senat yang mempunyai wajah tampan. Sangat mudah bagiku untuk menaklukkan hati perempuan. Aku sempat menikmati berpetualang dari perempuan yang satu ke perempat lain, hingga pada akhirnya jenuh sendiri. Memutuskan untuk tidak berpacaran lagi. Sampai detik ini.

***

Saat baru saja selesai berkunjung ke rumah penduduk untuk meminta data tentang tanah mereka yang dikuasai oleh perusahaan asing. Tanpa sengaja aku melihat Arini duduk di bale-bale depan rumahnya. Mungkin dia menunggu hujan turun. 

Aku berusaha memberanikan diri untuk menyapanya. Sore ini, dia begitu cantik. Mengenakan baju terusan berwarna peach. Rambut diikat tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya. Lesung pipi membingkai wajahnya yang mulus natural tanpa polesan bedak. Sangat mempesona, menawan hatiku yang tak bertuan.

"Hai. Aku boleh duduk di sini?"

Sekejap Arini mendongak, menatapku. Mata bulatnya menyiratkan rasa heran. Sudah lebih seminggu di sini, tapi belum pernah bertemu langsung. Mungkin dia merasa kaget dengan kehadiran mahluk asing yang tidak dikenalnya.

"Aku Runa. Tinggal di situ. Di rumah Pak Gunawan." Jariku menunjuk rumah yang aku tempati untuk sementara waktu. Rumah itu berada tepat di sebelah rumah Arini. Pak Gunawan, adalah teman baik bosku. Dia yang menawarkan tumpangan secara gratis.

"Arini," lirihnya. 

"Aku bukan orang jahat," ucapku saat melihat Arini menggeser duduknya, agar kami semakin berjarak.

"Maaf. Aku …." Arini tidak melanjutkan ucapannya. Aku melihatnya menitikkan air mata.

"Apa aku mengganggumu?"

Arini menggeleng lemah. "Tidak. Kau mengingatkanku pada seseorang."

"Siapa?"

"Dia orang yang pernah sangat dekat denganku. Kalian nyaris memiliki wajah yang sama."

"Kalau kau tidak keberatan. Kau bisa bercerita padaku. Tapi kalau tidak mau, tidak apa-apa."

Aku melihat keraguan di wajah Arini. Mungkin dia enggan bercerita. Atau bisa saja, dia tidak ingin membagi kisahnya pada orang yang baru saja dikenalnya.

"Maaf. Aku sering melihatmu main hujan-hujanan saat hujan turun."

Sejenak Arini menghela napas. "Itu bukan bermain. Aku sengaja menyatukan diri dengan hujan, agar tidak ada yang tahu,  kalau aku lagi menangis. Hujan bisa langsung menghapus air mataku dan bisa menyamarkan lukaku."

Sore itu, Arini pun banyak bercerita padaku. Tentang kisah cintanya yang dipisahkan oleh maut. Tentang sang pujaan hati yang begitu dia cintai, namun Sang Pencipta lebih menyayanginya. Sesekali dia terisak. Matanya masih tidak bisa menyembunyikan tentang lukanya.

"Kau harus belajar menerima kenyataan, Rin," ucapku pelan. Takut membuat Arini tersinggung.

"Aku sudah berusaha, Kak. Tapi tidak bisa."

"Apa kau ingin membuat Arie sedih di alamnya? Orang yang dia cintai, bersedih sepanjang hari." Arie, adalah nama kekasih Arini. Itu pengakuannya padaku.

"Bagaimana caranya melupakannya?" Tandas Arini.

"Menyibukkan diri."

Aku dengar dari Ibu Yulia. Sebelum kejadian dua tahun lalu, Arini adalah seorang pegawai Bank swasta. Namun, sejak kematian Arie, Arini resign dan bersibuk dengan lukanya. 

Cinta sejati. Itulah yang dimiliki oleh Arini.

"Mungkin Kak Runa benar. Sudah waktunya aku belajar menerima kenyataan. Cuman secara perlahan. Ini sangat berat bagiku."

Aku tersenyum mendengar penuturan Arini. Semoga saja, waktu bisa bisa menyembuhkan lukanya. Membantunya untuk melupakan bait kisah yang tak indah. Ah, Arini. Betapa beruntungnya Arie mendapatkan cintamu.

Sejak saat itu, aku makin dekat dengan Arini. Kadang menemaninya bercerita di bale-bale saat ada waktu senggang. Meminjamkan koleksi buku yang kubawa dari rumah. Dan dia antusias membacanya. 

"Ceritanya sangat bagus," ungkap Arini saat membaca novel karangan Tere Liye yang berjudul Rembulan Jatuh di Pangkuanmu.

"Semua novel Bang Tere itu keren. Dan untuk judul itu, sudah di filmkan, lo," balasku sambil tersenyum padanya. Berharap Arini membalasnya. Aku senang melihat lesung pipi di wajahnya.

"Wah. Aku ingin menonton filmnya."

"Kapan-kapan, kau bisa menontonnya di laptopku."

Satu hal yang tidak bisa kutampik adalah aku jatuh cinta pada Arini. Perempuan perindu hujan itu. Aku menyukai apa yang dia miliki. Kesederhanaan dan kecantikan naturalnya. 

Hari ini, kupikir adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu Arini tentang perasaanku yang sebenarnya. Saat hujan baru saja reda, aku menemui Arini di rumahnya. Seperti biasa, dia baru saja habis berkencan dengan hujan. 

"Aku ingin menggantikan posisi Arie di hatimu, Rin," ujarku saat Arini duduk di depanku sehabis menghidangkan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng.

"Tidak ada yang bisa menggantikan dia, Kak."

"Kalau begitu, izinkan aku untuk mencintaimu."

Arini menggeleng. "Tidak, Kak. Aku tidak ingin merasakan yang namanya ditinggalkan lagi."

"Kau harus percaya, kalau kematian itu adalah rahasia Tuhan, Rin. Percayalah, aku akan menjagamu. Menemanimu menyembuhkan luka." Nada suaraku agak tinggi.

"Jangan pernah memaksaku, Kak. Tadinya kupikir, kau hanya seorang sahabat bagiku. Namun, nyatanya kau berharap lebih."

"Salahkah kalau aku jatuh cinta padamu, Rin?

"Salah besar, Kak. Aku tidak ingin dicintai lagi dan tidak ingin mencintai."

"Kau tidak berhak untuk melarangku jatuh cinta, Rin," sergahku.

"Sudah kubilang, aku tidak ingin dicintai. Pulanglah, Kak. Aku tidak ingin melihat mukamu lagi." Sore ini, Arini mengusirku dari rumahnya. 

Aku terlalu gegabah, tidak sabaran mengatakan isi hatiku pada Arini. Akhirnya, hubunganku dan Arini semakin berjarak. Tidak pernah kulihat lagi Arini menampakkan diri di halaman rumahnya. Apakah dia berusaha menghindariku?

Aku akan tetap bertahan menunggumu Arini. Sampai kau percaya lagi akan cinta. Mungkin ini mustahil bagi sebagian orang, karena mencintai orang sepertimu yang hatinya beku adalah membuang-buang waktu. Namun, aku takkan menyerah, karena sejatinya aku telah jatuh cinta padamu. Dan bukankah cinta harus diperjuangkan?

***

Musim sudah berganti. Tak ada lagi hujan yang turun dari langit. Kali ini, Sang Surya yang bertugas menyinari bumi. Dan Arini apa kabar? Apakah dia akan membenci musim kemarau ini? Karena dia tidak bisa lagi menikmati hujan.

Aku rindu padamu Arini.

Sudah dua bulan aku kembali dari kota kecil itu. Tugasku di sana telah selesai. Aku berhasil membantu masyarakat memenangkan kasus tanah. Akhirnya pihak perusahaan asing rela mengganti uang masyarakat sebagai ganti rugi. 

Sayangnya di sana aku gagal mendapatkan cinta Arini. Beberapa kali aku mencoba menemuinya sebelum meninggalkan kotanya. Namun selalu penolakan yang kudapatkan. Kecewa, tentu saja. Yang namanya ditolak pasti sakit. Apakah ini sebuah karma untukku? Dulu, dengan gampangnya aku mematahkan hati perempuan. Kini, aku merasakan hal yang sama.

Di kota besar ini, kembali aku beraktifitas seperti semula. Menemui klien yang butuh jasa pendampingan hukum. Aku lebih banyak menyibukkan diri untuk melupakan Arini. Perempuan itu, betul-betul telah menyita sebagian waktu dan pikiranku.

Sore, setelah pulang dari kantor. Aku berjalan-jalan untuk mengitari kota Makassar. Merefresh pikiran yang lagi galau. Kenapa aku menjadi melankolis seperti ini? Aku memukul jidat sambil menertawakan diri sendiri.

Tidak sengaja netraku menangkap perempuan berdiri di sisi jalan, sepertinya sedang menunggu angkot. Perempuan berambut sebahu dan berlesung pipi. Bukankah itu adalah …?

Buru-buru aku hentikan mobilku tepat di hadapannya. "Arini?" Aku menyapanya.

"Kak Runa?" Dia tersenyum saat melihatku. Aku bahagia melihat ekspresinya saat ini.  Tidak kutemukan lagi duka di wajahnya. 

"Sedang apa di sini?" Aku turun dari mobil dan mengajaknya duduk di halte mini yang kebetulan ada di situ.

"Kak Runa benar. Aku harus belajar menerima kenyataan. Jodoh dan maut adalah takdir."

"Apakah itu berarti, kau juga bisa menerimaku?"

Arini mengangguk malu. Namun itu sudah cukup bagiku. Aku akan mengajarinya melupakan masa lalu dengan memberinya cinta yang utuh.

"Katakan. Kapan aku melamarku?"

Arini tertawa. Membuatnya semakin cantik. Perempuan perindu hujan itu telah berubah rupanya. "Secepatnya. Aku tidak ingin kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali. Aku tidak ingin kehilangan orang yang kucintai."

Rasanya tidak percaya mendengar apa yang dikatakan Arini. Segera kugenggam tangannya dan berbisik, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Sore ini, langit Makassar jadi saksi kebahagiaanku. Semesta pun merestui hubungan kami yang baru akan dimulai ini dengan mengirimkan hujan di musim kemarau.

Tiba-tiba aku juga mencintai hujan.

Tidore, 3 September 2020








Nasib Kampung Pak Tani

Posted By Redaksi on Rabu, 02 September 2020 | 11:38:00 PM


Oleh: Ali Wardi

Tanah hitam nan luas terbentang, 
diselimuti permadani hijau. 
Bulir-bulir embun bersama mentari membelai lembut sepanjang tahun. 

Tak terlalu lama menanti, semburat hamparan kuning tangkai-tangkai padi memahkotai setiap rumpun permadani.

Indah sekali negeri ini. 
Keping surga yang jatuh ke bumi. 
Apa sebenarnya yang kita cari, 
sedang semua yang diperlukan semuanya sudah ada disini, 
berlimpah bila hidup memang hanya untuk mengabdi.

Tapi anak-anak ayam itu kelaparan di lumbung padi, 
berserakan mencari hidup jadi TKI,
Atau jadi babu-babu berdasi,
di kantor-kantor dan kawasan industri  

Ada yang salah dengan negeri ini.
Sudah terlalu lama larut menipu diri. 
Para pemimpin, mengukur baju di badan orang lain. Sadarlah wahai Pribumi.

Bogor, 2 September 2020

Sebuah Cerita Dari Kampung

Posted By Redaksi on Selasa, 25 Agustus 2020 | 6:08:00 PM


Oleh: Maya Akhmad         

Aku berjalan
Menyeberang hulu sungai
Dihembus angin 
Meliuk dedaunan

Tentang aku
Dan cintaku 
Kepada lelaki 
Di dusun
Ingin kutuntaskan perjalanan ini 
Bersamanya

Aku merasa sejuk 
Di pematang sawah
Yang tumbuh ilalang
Siang terik
Matahari tegak lurus

Aku bernaung
Di sebuah dangau 
Mencari hari hariku yang hilang
Gemericik air membawaku
Ke irama alam 
Rasa kantuk tak mampu kuhalau
Dan akupun tertidur
 
Siang itu aku bersamanya
Lelaki dari dusun
Segenap jiwa raga aku mencintainya
Pun dia sangat menyayangiku
Sebagai pembuktian dan pembaktian
Anak bini yang meminta selalu

Segala letih pun hilang terbasuh
Dan serumpun cintaku
Di naungan langit biru
Cinta kami sederhana.                         

Agustus 2020
Salassae tercintaku and Bulu Lonrong
Jiwakamisatu

* Maya Akhmad, seorang Ibu rumah tangga. Di sela-sela aktifitasnya sebagai seorang perempuan tani, ia banyak menulis puisi. Perempuan ini suka membaca. Tinggal di dusun Bolongnge Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba.

Hujan di Bulan Juli

Posted By Redaksi on Selasa, 18 Agustus 2020 | 1:18:00 PM

Oleh: Assyifa Barizza


Kenapa kau suka hujan?

Masih ingatkah kau dengan pertanyaan itu? Beberapa tahun yang lalu, secara tidak sengaja kita bertemu di sebuah kampung yang terletak di pinggiran kota, menumpang berteduh di teras rumah yang tak berpenghuni.

Suasana di situ sepi dan lengang. Hanya ada beberapa rumah penduduk, itupun berjauhan jaraknya. Namun hujan memaksaku untuk mampir. 

Kala itu, hujan sangat deras. Tidak ada siapa-siapa, hanya kita berdua. Rasa bosan menunggu hujan reda, akhirnya kita saling menyapa.

"Dari mana?" Kau yang memulai percakapan. Sebagaian bajuku telah basah. Aku memilih duduk di pojokan, tangan bersedekap untuk menghalau rasa dingin.

"Dari rumah teman." Singkat jawabanku.

Mungkin karena iba melihatku, kau membuka jaketmu dan meminjamkannya padaku. "Pakailah."

"Tapi, kau juga butuh jaket itu," tolakku halus. Aku enggan menerima pemberiannya. Karena kami baru pertama kali bertemu. Siapa dia, siapa namanya, apakah dia orang baik atau jahat. Itu yang ada di pikiranku saat itu.

"Bajuku tebal. Dan kau lebih membutuhkannya. Maaf, lekuk tubuhmu tercetak jelas dengan pakaian basah seperti itu. Tapi kalau kau menolak …."

"Baiklah. Aku menerimanya." Segera kuraih jaket di tangannya dan memakainya. Aroma parfum jaketnya maskulin, sepertinya parfum bermerk. aku menyukainya. Rasa hangat pun menjalari tubuhku.

"Terima kasih," ucapku sembari menatapnya sekilas. Malu. 

"Namamu siapa?" Kau bertanya tanpa mengulurkan tangan padaku.

"Lavina."

"Nama yang manis. Seperti orangnya."

Aku tersenyum mendengar ucapanmu. Entahlah, merasa senang saja. Sekali lagi aku mencuri pandang padamu. Tampan, kulit hitam manis dan menawan. Badan proporsional. Aku melihatmu, sepertinya sikapmu terkesan angkuh. Sudah 30 menit di sini, namun tak pernah sekalipun kau tersenyum. Aku yakin, kalau kau tersenyum, pasti akan tambah gagah.

"Kuliah?" tanyamu lagi. Kali ini, kau menyulut rokok dan sesekali mengembuskannya ke udara. Ah, kau semakin cool saat merokok.

Aku mengangguk. "Iya."

"Jurusan apa?"

"Keperawatan."

"Bagus."

Hujan yang enggan berhenti, membuat kita bercakap lama. Tentang hobi, makanan kesukaan dan tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.

"Aku tidak pernah bosan berkunjung ke pantai. Aku suka diving, menikmati keindahan bawah laut. Sesekali mendaki gunung bersama teman, menikmati keindahan alam."

"Wah. Kakak keren sekali." Aku tidak bisa menyembunyikan kekaguman.

"Kau sendiri suka apa?" tanyamu.

"Aku suka hujan," lirihku sambil menatap butiran hujan yang jatuh ke tanah.

"Kenapa?"

"Tidak ada alasan, sih. Aku suka aroma tanah sehabis hujan."

"Kau lucu. Sekali waktu, aku ingin mengajakmu berhujan-hujanan."

Aku tersenyum. Sepertinya tawaranmu menarik. Aku memang menyukai hujan sedari kecil. Entahlah, bunyinya seperti musik alam yang akan membuatku tertidur lelap.

Baru pertama kali bertemu, tapi aku merasa nyaman berbincang denganmu. Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Hujan pun seakan mengerti, dia masih saja betah berlama-lama di sini, tempat kita berteduh.

"Kau sepertinya kedinginan. Kemarilah."

Saat itu, aku tidak kuasa menolak saat kau tarik tubuhku untuk bersandar di dadamu. Pelukanmu memberikan kehangatan pada tubuhku. Aku menikmatinya. Sungguh.

Hujan semakin lebat, tak ada siapapun di sini selain kita berdua sehingga kita bebas untuk meniadakan jarak. Entah karena pengaruh dingin atau nafsu, tanpa permisi kau mengecup keningku, lalu berpindah ke bibirku.

Aku? Tentu saja terkejut dengan apa yang kau lakukan. Ini pertama kalinya, aku dicium. Namun kenapa begitu indah? Aku tidak bisa menghentikanmu. Aroma rokok dan mint yang terasa dari mulutmu, seperti menjadi candu. Manis dan memabukkan.

Awalnya aku tidak tahu cara berciuman. Namun setelah beberapa saat, aku bisa dan membalas ciumanmu. Hati ingin berteriak, hentikan. Namun tubuh tak kuasa menolak. Aku menyukainya.

Apakah aku seperti perempuan murahan? tidak menolak berciuman pada pria yang baru saja kukenal. Ah, akal sehatku entah ke mana. Tidak ada ada kata jangan yang keluar dari mulut, hanya pasrah.

Entah beberapa menit kami larut dalam ciuman, hanya beberapa saat berhenti untuk mengambil napas, lalu melanjutkan kembali.

"Maaf. Aku lupa diri," ucapmu lalu melepaskan diri. Kau memperbaiki letak rambutku yang acak-acakan akibat ulah tanganmu itu.

Aku tertunduk malu. Tubuhku masih menyisakan getaran. Sulur-sulur cinta tak bisa kutampik, datang saat itu juga. Apa yang baru saja kita lakukan, itu pengalaman yang paling berkesan.

Hujan sudah mulai reda. Tinggal menyisakan rinai. Hari pun sudah sore. Kita segera bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.

"Aku tidak ingin hubungan ini berakhir sampai di sini. Kalau kita berjodoh, kita akan dipertemukan kembali. Oh, ya, namaku Gali." Sekali lagi kau mengecup bibirku.

Kita pun berjalan ke arah motor yang terparkir di sisi jalan. Meninggalkan tempat itu dengan mengambil jalan yang berbeda. Aku ke arah Timur dan kau ke arah Barat.

Satu hal yang paling kusesali dalam pertemuan itu, kenapa aku tidak bertanya berapa nomor ponselmu? Tinggal di mana dan berasal dari kota mana? 

Sepertinya ini, hanyalah kisah cinta sesaat. Datang begitu saja dan tidak terulang lagi.
Menyedihkan. 

***

Hujan di bulan Juli. Mengingatkan kembali kenangan bersama Gali. Sudah lima tahun sejak kejadian itu, tapi tak pernah dipertemukan kembali.

Namun, dia telah membawa sepotong hati dan cintaku. 

Kau gadis bodoh Lavina. Gali tidak akan pernah datang. Dia tak pernah menganggapmu ada. Jangan buang-buang waktu menunggu yang tak pasti. Aku bermonolog dalam hati.

Jaket dari Gali masih ada, tersimpan rapi dalam lemari. Menjadi obat rindu. Aroma badannya masih tersimpan di sana. 

Aku merindukanmu Gali.

Kembali aku menatap hujan. Hujan ini sama saat pertama kali bertemu dengan Gali. Enggan berhenti.

"Lavina."

Lamunanku terhenti saat seorang pria datang menghampiriku. Aku menoleh dan tersenyum pada yang baru saja masuk ke Cafe ini.

"Maaf. Aku  Membuatmu menunggu lama. Seharusnya aku yang datang pertama kali ke Cafe ini, dan tidak membiarkanmu menunggu. Namun hujan menghalangi."

"Tidak apa-apa, Aldi."

Sore ini, Aldi mengajakku bertemu di Cafe Paradise. Cafe yang terletak di tepi  pantai Kayangan. Saat ini, Cafe kurang pengunjungnya. Mungkin karena hujan. Hanya satu dua pengunjung. 

"Ada hal penting yang ingin kubicarakan," tutur Aldi saat sudah duduk di depanku. Pramusaji pun datang menghidangkan Sanggara' peppe dan dua gelas Sarabba, makanan dan minuman khas kota kami. 

"Apa?" tanyaku sambil meniup Sarabba lalu mencicipinya.

"Pertanyaanku tempo hari, kau belum jawab. Bersediakah engkau menjadi istriku?"

Aku tersedak saat mendengar penuturan Aldi. Yah, beberapa bulan yang lalu, dia pernah menanyakan hal yang sama. Namun sampai saat ini, aku belum memberinya jawaban. 

Hatiku sudah ada bersama Gali.

"Apa kurangnya aku, La? Aku mencintaimu dan aku berjanji untuk membahagiakanmu, sebisaku." Aldi menggenggam tanganku lalu mengecupnya.

"Kamu tidak kurang apa-apa, Al. Kau baik, tampan dan sempurna."

"Terus, kenapa kau tidak menerimaku?" tuntut Aldi.

"Ini masalah hati, Al. Aku tidak mencintaimu." Dengan berat hati kukatakan itu. Aku melihat raut kecewa di wajahnya.

"Aku bersedia menunggumu untuk jatuh cinta padaku, La."

Aku terdiam. Aldi terlalu baik. Seharusnya pria yang bekerja di kepolisian itu mendapat perempuan yang mencintainya dengan tulus. 

Melihat ketulusan dan keseriusan di wajah Aldi, hatiku tergerak untuk belajar mencintainya. Mungkin, aku harus belajar membuka hati untuk pria lain. 

Aku sudah di ambang keputus-asaan menunggu Gali. Lelah dan capek menunggu yang tidak pasti. Saatnya, harus melupakannya.

"Baiklah. Aku bersedia untuk menjadi istrimu. Aku akan belajar mencintaimu, Al."

Aldi tersenyum lebar mendengar apa yang kuucapkan. Dia kemudian meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Terima kasih, La. Percayalah, aku akan membahagiakanmu."

Aku membalas genggaman tangannya. Hujan telah berhenti. Aroma petrikor menguar masuk ke dalam cafe. Tak ada kata lagi yang terucap, hanya mata yang saling berbicara.

Penantianku telah berakhir Gali. Aku mencintaimu, namun kau hanya ilusi. Rasa ini harus kumatikan dan menghidupkan kembali pada pria yang setia menantiku selama setahun ini. Aldi Gunawan, pria berpangkat Bripda di kepolisian. Kepadanya, aku akan belajar melabuhkan hati.

***

Hari ini, aku agak telat ke rumah sakit tempatku bekerja. Alasannya, karena hujan. Bulan Juli ini, hujan memang mengganas. Matahari jarang muncul, hanya sesekali. 

Di koridor, beberapa teman sejawatku asyik bercerita. Entah apa yang mereka perbincangkan, hingga tawa tak pernah lepas dari mulut mereka.

"Lavina. Sini, ada hal penting." Ariella, melambaikan tangan padaku.

"Hal penting apa sih?" Aku mengerutkan kening. "Gaji kita dinaikkan?"

"Bukan. Ada dokter baru di rumah sakit ini. Ganteng banget lo. Sekarang dia ada di ruangan kepala rumah sakit."

"Tidak menarik," tandasku pelan. 

"Itu dia." Nayya yang sedari tadi diam, ikut berbicara. 

Aku segera menoleh, menatap pria yang yang berjalan ke arah kami. Dia bersisian dengan Dokter Fahmi, kepala rumah sakit ini.

"Gali?" Tanpa sadar, aku berteriak. Tidak salah lagi, dia adalah Gali, pria yang pernah kutemui lima tahun lalu. Tidak banyak berubah padanya. Hanya tambah dewasa dan gagah. Memakai celana hitam, dan jas berwarna putih, pakaian kebesaran dokter, membuat penampilannya nyaris sempurna. 

Ingatan beberapa tahun lalu kembali menyeruak. Bagaimana dia menciumku dan menyentuhku. Kenapa sekarang dia baru hadir? 

"Lavina?" Ternyata dia mengenaliku. Aku yang saat itu berdiri di sisi koridor hanya menundukkan kepala, tidak kuasa menatap ke arah Gali. Apalagi saat ini, ada dokter Fahmi. Tidak elok rasanya bernostalgia di depannya. Bagaimanapun, dia adalah pemimpin tertinggi di rumah sakit ini.

"Aku kembali ke sini untukmu, Lavina." Setelah memeriksa pasien di perawatan Edelweiss, Dokter Gali menemuiku di perawatan Tulip, tempatku jaga hari ini. Mengajakku ke cafe yang terletak tidak jauh dari rumah sakit.

"Kamu terlambat, Gali. Setelah sekian tahun menunggumu, kau tidak datang. Aku lelah."

"Maaf. Seharusnya saat itu kita bertukaran nomor ponsel. Saat itu, aku fokus menyelesaikan kuliahku di kedokteran. Kemudian lanjut lagi ambil specialis jantung. Tapi percayalah, aku tidak pernah melupakanmu."

Aku menatap pria di depanku ini. Laki-laki yang sempurna. Siapa yang tidak bangga punya calon suami dokter? Sampai saat ini, hatiku seutuhnya masih milik Gali. 

"Kau tahu? Sejak pertemuan pertama kita. Aku langsung jatuh cinta padamu. Setiap hari aku merindukanmu. Namun, aku tidak tahu harus menemuimu di mana." Aku merasa, bulir air mataku jatuh membasahi pipi. Ingin rasanya, aku memeluk Gali untuk menuntaskan rasa rindu yang sekian tahun terpendam.

"Aku sudah datang, La. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi." Gali mengusap air mataku. Lembut.

"Terlambat. Tidak lama lagi, aku akan menikah."

Bulan Juli, bukan saja bulan hujan. Namun, bulan di mana air mataku banyak tumpah. Aku hanya bisa memandangi kepergian Gali dari cafe dengan air mata yang tak kunjung berhenti.

Apakah Gali juga terluka? Entahlah. 

Satu bulan lagi, aku akan melangsungkan pernikahan dengan Aldi Gunawan. Tidak ada yang bisa kami lakukan, selain membunuh perasaan yang terlanjur tumbuh di antara kami.

Kau tahu Gali? Aku pernah terbunuh oleh rindu. Tapi tidak dengan cintaku, aku tetap merawatnya, meski tidak harus bersamanya. Kisah kita akan tetap abadi di sini. Di hatiku.

Aku tidak menyesali pertemuan kita. Mungkin itu sudah menjadi skenario Sang Pencipta. Kita tidak ditakdirkan untuk tidak bersama.


Tidore,  18 Agustus 2020











loading...
 
Support : Creating Website | LiterasiToday | sastrakecil.space
Copyright © 2011. sastra kecil - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by sastrakecil.space
Proudly powered by LiterasiToday